Sriwijaya FC Berangkat dengan 14 Pemain, Liga 2 Berubah Jadi Arena Bertahan Hidup

  • Bagikan
Bus Sriwijaya FC ketika dilaunching pada tahun 2018 dan masih terpampang sponsor tim sampai saat ini - Foto (Liputan6.com)

SEPAK POJOK 82 – Jika sepak bola adalah soal perjuangan, maka apa yang dialami Sriwijaya FC jelang laga tandang Liga 2 musim 2025/2026 ini berada di titik paling getirnya.

Laskar Wong Kito harus bertolak ke Banten menggunakan bus, Kamis (29/1/2026), untuk menghadapi Adhyaksa FC di Stadion Banten Internasional. Namun persoalannya bukan soal jarak. Yang lebih menyakitkan adalah isi rombongan.

banner 336x280

Sriwijaya FC hanya membawa 14 pemain dan satu orang kit man. Tanpa tim medis. Tanpa masseur. Tanpa lapisan pengaman paling dasar dalam sepak bola profesional. Klub yang pernah menjadi kebanggaan Sumatera Selatan itu kini datang ke pertandingan bukan untuk mengejar kemenangan, melainkan sekadar hadir agar tidak dinyatakan walk out (WO).

Bertanding Tanpa Kepastian

Dalam situasi yang nyaris tak masuk akal, Sriwijaya FC tetap turun ke kompetisi. Tanpa persiapan ideal. Tanpa latihan rutin yang memadai. Dan tanpa kepastian masa depan.

Krisis keuangan sebenarnya bukan cerita baru di tubuh Sriwijaya FC. Namun musim ini, dampaknya terasa jauh lebih brutal. Ini bukan lagi sekadar soal telat gaji atau minim fasilitas yang terjadi adalah krisis keberlangsungan klub.

Baca Juga  Persebaya vs PSM Makassar: Bernardo Tavares Lupakan Nostalgia, Fokus 200 Persen di Gelora Bung Tomo

Situasi kian genting setelah Komisaris Utama Sriwijaya FC, Alexander Rusli, resmi mengundurkan diri. Kepergian figur sentral tersebut menandai babak baru yang lebih sunyi: tanpa penopang finansial kuat dan tanpa jaring pengaman struktural.

Beban di Satu Pundak

Pasca pengunduran diri itu, hampir seluruh beban pengelolaan klub bertumpu pada Anggoro Prajesta, Direktur Olahraga PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM). Dalam praktiknya, peran Anggoro tak lagi sebatas teknis.

Ia kini menjelma menjadi penjaga nyawa klub mengurus tim, memastikan Sriwijaya FC tetap terdaftar, tetap hadir di lapangan, dan tidak tenggelam di tengah kompetisi.

Ironisnya, setiap pertandingan justru menambah beban biaya. Tanpa sponsor baru. Tanpa suntikan dana darurat. Tanpa restrukturisasi menyeluruh. Liga 2 berubah dari panggung pembuktian menjadi arena bertahan hidup.

Bus Lama, Sponsor Lama, Realita Baru

Di tengah krisis, ironi lain ikut menyertai perjalanan Sriwijaya FC. Bus yang digunakan tim masih terpampang brand sponsor besar seperti Bank Sumsel Babel, Smartfren, dan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk, nama-nama yang menemani perjalanan Sriwijaya FC dari tur Tegal, Jawa Tengah, hingga Bekasi.

Baca Juga  Jangan Tutup Mata! Penyerang Lokal Liga 2 Ini Siap Tantang Nama Besar

Namun kenyataannya, brand-brand tersebut tidak lagi menjadi sponsor aktif. Meski demikian, logo mereka tetap “berjalan”, dilihat ratusan bahkan ribuan pasang mata di sepanjang perjalanan tim.

Masalah Baru di Rumah Sendiri

Belum selesai urusan di luar lapangan, Sriwijaya FC juga menghadapi persoalan tambahan. Klub diminta mengganti rugi kerusakan fasilitas Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ) usai insiden ricuh suporter dalam laga kontra Sumsel United, Sabtu (24/1/2026).

Direktur Pemasaran dan Operasional PT Jakabaring Sport City (JSC), Geri Radityo Suparudin, mengungkapkan pihaknya telah menginventarisasi kerusakan. Fasilitas yang terdampak meliputi kursi penonton, akrilik, serta tangga darurat di tribun utara dan selatan. Estimasi kerugian disebut mencapai puluhan juta rupiah.

Sepak Bola dan Pertanyaan Besar

Sriwijaya FC masih bertanding. Masih hadir. Masih hidup.
Tapi pertanyaannya kini bukan lagi soal posisi klasemen.

Sampai kapan?

  • Bagikan