SepakPojok82 – Sepak bola Indonesia kembali mencatat noda hitam. Sriwijaya FC resmi masuk buku sejarah, bukan karena prestasi, melainkan sebagai tim dengan kekalahan terbesar dalam kompetisi resmi nasional. Laskar Wong Kito dipermalukan Adhyaksa FC Banten dengan skor telak 15-0.
Laga yang berlangsung di Banten International Stadium, Serang, Kamis (29/1/2026), berubah menjadi mimpi buruk sejak peluit awal dibunyikan. Alih-alih memberi perlawanan, Sriwijaya FC justru tenggelam dalam tekanan tanpa henti.
Sejak kick-off, Adhyaksa FC tampil agresif. Pressing tinggi membuat Sriwijaya FC kehilangan arah. Lini tengah gagal mengontrol permainan, sementara pertahanan tampak rapuh dan mudah ditembus.
Tujuh gol bersarang di gawang Sriwijaya FC hanya dalam satu babak. Kiper Acil Quba berkali-kali memungut bola dari gawangnya, menjadi saksi runtuhnya koordinasi lini belakang yang nyaris tanpa perlawanan.
Memasuki babak kedua, Adhyaksa FC tak mengendurkan serangan. Menit ke-47, Adilson Silva kembali mencatatkan namanya di papan skor lewat sepakan keras yang tak mampu diantisipasi Acil Quba, mengubah skor menjadi 8-0.
Petaka berlanjut. Pada menit ke-62, Adilson mencetak gol keenamnya, double hattrick yang semakin menegaskan ketimpangan kualitas kedua tim. Skor berubah menjadi 9-0, dan frustrasi jelas terlihat di kubu Sriwijaya FC.
Gol ke-10 Adhyaksa FC hadir melalui Fergonzi pada menit ke-67, memanfaatkan kegagalan kiper Sriwijaya FC mengamankan bola. Lima menit berselang, gol bunuh diri pemain belakang Sriwijaya FC menambah penderitaan menjadi 11-0.
Makan Konate kemudian mencatatkan hattrick lewat gol voli spektakuler yang membawa skor menjadi 12-0. Miftahul Hamdi yang masuk sebagai pemain pengganti tampil trengginas dengan mencetak dua gol tambahan pada menit ke-75 dan 82, melengkapi hattrick pribadinya. Pesta gol Adhyaksa FC ditutup oleh gol kedua Fergonzi pada masa injury time, menit ke-90+4.
Skor akhir 15-0 menjadi penegasan dominasi total Adhyaksa FC sepanjang pertandingan.
Ironisnya, kekalahan ini kontras dengan sejarah Sriwijaya FC. Pada Liga 1 musim 2017, klub asal Sumatera Selatan tersebut pernah mencatatkan kemenangan besar dengan membantai Persegres Gresik United 10-2. Kini, posisi Sriwijaya FC justru berbalik: dari pencetak rekor kemenangan besar, menjadi simbol keterpurukan.
Sepanjang laga, Sriwijaya FC kesulitan menguasai bola, mudah kehilangan penguasaan, dan gagal membangun serangan berarti. Pelatih Budi Sudarsono hanya bisa menggelengkan kepala melihat timnya tak mampu keluar dari tekanan.
Kekalahan 15-0 ini bukan sekadar angka di papan skor. Ini adalah alarm keras bagi manajemen, tim pelatih, dan seluruh elemen Sriwijaya FC sebuah pekerjaan rumah besar yang tak lagi bisa ditunda jika klub bersejarah ini ingin bertahan dari jurang kehancuran.













