SEPAKPOJOK82.COM – Langkah berani dan tak lazim diambil nakhoda anyar Timnas Indonesia, John Herdman. Pelatih berlabel Piala Dunia itu dijadwalkan mendarat di Jakarta pada Senin, 12 Januari 2026, dengan cara yang jauh dari kebiasaan pelatih top dunia: datang seorang diri.
Ketua Badan Tim Nasional (BTN) PSSI, Sumardji, mengonfirmasi bahwa Herdman tiba tanpa membawa asisten pelatih asing maupun staf teknis kepercayaannya. Sebuah pemandangan langka, mengingat pelatih kelas dunia umumnya datang lengkap dengan “gerbong” tim pendukung.
“John Herdman datang tanggal 12 Januari. Sendirian, belum ada staf asing yang mendampingi,” ujar Sumardji kepada awak media, Jumat (9/1/2026).
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Herdman disebut telah menyepakati tantangan dari PSSI untuk meracik tim kepelatihan yang didominasi pelatih lokal. Ia ingin melihat langsung kualitas sumber daya manusia dalam negeri sebelum memutuskan apakah perlu mendatangkan staf tambahan dari luar.
Respek Kultur, Siap Bangun dari Nol
Langkah Herdman dinilai sebagai bentuk respek terhadap kultur sepak bola Indonesia. Ia tak ingin sekadar datang sebagai manajer “terima jadi”, tetapi siap bekerja dari bawah dan memahami ekosistem Timnas Indonesia secara menyeluruh.
Pengamat sepak bola nasional, Binder Singh, menilai keputusan tersebut menunjukkan karakter Herdman sebagai pelatih yang fleksibel, baik dalam pendekatan taktik maupun formasi.
“Herdman itu pelatih yang adaptif. Meski sering menggunakan skema tiga bek tengah, filosofi menyerang tetap menjadi ciri khasnya,” ujar Binder.
Taktik Fleksibel, Filosofi Menyerang
Pengalaman John Herdman bersama Timnas Kanada hingga tampil di Piala Dunia 2022 diyakini sangat relevan dengan kondisi skuad Garuda saat ini. Timnas Indonesia sebelumnya telah melewati dua era pelatih dengan karakter berbeda: Shin Tae-yong dengan disiplin dan struktur permainan rapi, serta Patrick Kluivert dengan pendekatan total football.
Kombinasi tersebut dinilai bisa menjadi modal berharga di tangan Herdman. Fleksibilitas taktiknya dipercaya mampu menyatukan berbagai karakter pemain yang kini dimiliki Timnas Indonesia.
“Bukan hanya taktik yang bisa berubah, tapi juga formasi. Walaupun dia sering memakai tiga bek tengah, ketika melatih Kanada, permainannya selalu ofensif,” jelas Binder.
Namun, Binder menegaskan bahwa gaya menyerang ala Herdman bukanlah sepak bola terbuka tanpa perhitungan.
“Bukan menyerang secara membabi buta, tapi lewat sirkulasi bola cepat dan pemanfaatan momentum transisi. Karena itu dia selalu mengombinasikan pemain matang dengan pemain muda yang punya kecepatan,” pungkasnya.
Era Baru Timnas Indonesia
Kedatangan John Herdman seorang diri seolah menjadi simbol awal era baru Timnas Indonesia. Era di mana pelatih kepala tak hanya membawa nama besar, tetapi juga keberanian untuk beradaptasi, mempercayai potensi lokal, dan membangun fondasi jangka panjang.
Kini publik tinggal menunggu: sejauh mana racikan Herdman mampu mengubah wajah Timnas Indonesia menjadi kekuatan yang lebih berani, agresif, dan kompetitif di level Asia.













