SEPAKPOJOK82.COM – Gerak cepat dilakukan oleh otoritas sepak bola nasional dalam menyikapi insiden memalukan yang mencoreng kompetisi usia muda. Operator kompetisi, I.League, secara resmi menyatakan dukungan penuh kepada PSSI untuk menjatuhkan sanksi maksimal terhadap pemain muda Fadly Alberto Henga.
Langkah tegas ini merupakan buntut dari aksi kekerasan dalam laga Elite Pro Academy (EPA) U-20 antara Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 menghadapi Dewa United Banten FC U-20 yang berakhir ricuh.
PSSI: Karakter Pemain Adalah Harga Mati
PSSI melalui pernyataan resminya menegaskan tidak akan memberikan toleransi sekecil apa pun terhadap tindakan brutal di lapangan hijau. Federasi menilai, kompetisi usia muda seharusnya menjadi kawah candradimuka bagi pembentukan karakter, bukan arena kekerasan.
“PSSI sangat prihatin dan menyayangkan kejadian ini. Siapa pun yang terlibat akan ditindak tegas. Kompetisi ini adalah tempat belajar, bukan tempat menunjukkan arogansi,” tegas pernyataan resmi federasi, Rabu (22/4/2026).
Selain pemain, PSSI juga membidik perangkat pertandingan. Komite Wasit akan melakukan evaluasi mendalam terhadap adanya indikasi kelalaian wasit yang memimpin laga tersebut, dengan potensi sanksi tegas jika terbukti gagal mengendalikan situasi.
I.League: Mencederai Fondasi Sepak Bola Nasional
Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, mengungkapkan kekecewaan mendalam atas insiden yang melibatkan pemain label Timnas tersebut. Baginya, Elite Pro Academy (EPA) adalah aset paling berharga untuk masa depan sepak bola Indonesia.
“Sangat disayangkan insiden seperti ini terjadi di Elite Pro Academy. Ini adalah fondasi sepak bola Indonesia ke depan. Seharusnya wadah ini melahirkan calon bintang Timnas Indonesia yang beradab, bukan justru diwarnai tindakan tidak sportif,” ujar Ferry Paulus.
Sanksi Maksimal Demi Efek Jera
Dukungan I.League terhadap PSSI untuk memberikan hukuman terberat bagi Fadly Alberto bertujuan untuk memberikan pesan kuat kepada seluruh pemain muda di tanah air. Sanksi ini diharapkan menjadi efek jera agar integritas kompetisi tetap terjaga.
Kasus ini menjadi “alarm” keras bagi klub-klub peserta agar tidak hanya fokus pada menu latihan fisik dan taktik, tetapi juga memberikan porsi besar pada edukasi psikologis dan kontrol emosi pemain. Tanpa penanganan serius pada aspek karakter, bakat sebesar apa pun berisiko layu sebelum berkembang akibat perilaku indisipliner.













