JAKARTA – Hubungan sepak bola serumpun Indonesia–Malaysia kembali memanas. Media asal Malaysia, My News Hub, melontarkan tuduhan serius kepada Ketua Umum PSSI, Erick Thohir. Ia disebut sebagai aktor intelektual di balik sanksi yang dijatuhkan FIFA kepada Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM).
Tuduhan ini bukan kali pertama mencuat. Sejak September 2025, nama Erick sudah dua kali diseret dalam pusaran polemik dugaan pemalsuan dokumen naturalisasi pemain Malaysia.
Kronologi Kasus: Dari Sanksi FIFA hingga Teori “Proksi Vietnam”
1. Akar Masalah: Sanksi FIFA untuk FAM
Kasus bermula pada 26 September 2025 ketika FIFA menjatuhkan sanksi kepada FAM terkait dugaan pemalsuan dokumen naturalisasi tujuh pemain.
Meski FAM membantah adanya unsur kesengajaan, FIFA tetap menjatuhkan hukuman. Keputusan ini memicu spekulasi di sejumlah media Malaysia mengenai pihak yang melaporkan dugaan pelanggaran tersebut.
2. Tuduhan Jilid I: Indonesia Disebut Terlibat
Gelombang tuduhan pertama muncul tak lama setelah sanksi diumumkan. Narasi yang berkembang menyebut laporan terhadap tujuh pemain naturalisasi itu datang dari Indonesia dan Vietnam.
Nama Erick Thohir pun langsung dikaitkan. Bahkan, Putra Mahkota Johor, Tunku Ismail Sultan Ibrahim, sempat membagikan artikel media Malaysia yang menyoroti dugaan standar ganda FIFA. Unggahan tersebut kemudian dihapus, namun sudah lebih dulu tersebar luas di media sosial.
Dalam pernyataannya di platform X, Tunku Ismail juga menyinggung adanya “pihak asing” yang mempengaruhi keputusan FIFA. Ia bahkan menulis kalimat “Siapa yang ada di New York?”, yang oleh sebagian netizen Indonesia ditafsirkan sebagai sindiran terhadap Presiden RI, Prabowo Subianto, yang saat itu diketahui bertemu Presiden FIFA, Gianni Infantino, di New York.
Namun tidak ada bukti resmi yang mengaitkan pertemuan tersebut dengan sanksi terhadap FAM.
Bantahan Erick Thohir
Menanggapi tudingan tersebut pada September 2025, Erick memberikan bantahan tegas. Ia menegaskan PSSI tidak pernah mencampuri urusan federasi negara lain.
“Kita harus menghargai semua negara di Asia Tenggara ketika ingin olahraganya maju. Kita tidak ikut campur dengan politik atau kebijakan masing-masing negara,” tegas Erick saat itu.
3. Tuduhan Jilid II: Teori “Vietnam Sebagai Proksi”
Lima bulan berselang, isu kembali mencuat. Pada Minggu (15/2/2026), My News Hub merilis laporan lanjutan yang lebih spesifik.
Media tersebut secara eksplisit menyebut Erick Thohir sebagai “watak utama” di balik aduan ke FIFA. Berdasarkan klaim sumber anonim dari Amerika Latin, Erick dituduh menggunakan Vietnam sebagai perantara.
Dalam narasi yang dibangun:
-
Vietnam disebut sebagai pelapor resmi ke FIFA
-
Erick dituduh menyuplai data dan dokumen pelanggaran
-
Aduan disebut sebagai manuver “baling batu sembunyi tangan”
Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada bukti konkret yang dipublikasikan untuk mendukung klaim tersebut. PSSI juga belum mengeluarkan pernyataan resmi terbaru terkait tudingan jilid kedua ini.
Hubungan Sepak Bola Serumpun di Ujung Ketegangan
Polemik ini menambah panas rivalitas Indonesia–Malaysia, terutama dalam konteks naturalisasi pemain dan persaingan di level Asia Tenggara.
Isu sanksi FIFA terhadap FAM kini tidak hanya menjadi persoalan administratif, tetapi juga berkembang menjadi perang opini di ruang publik dan media sosial.
Sepak bola yang semestinya menjadi pemersatu kawasan justru kembali menjadi panggung ketegangan. Publik kini menunggu kejelasan fakta dan sikap resmi federasi terkait agar isu ini tidak semakin liar.













