SepakPojok82 – Arsenal boleh saja masih bertengger di puncak klasemen Liga Inggris, tapi performa Meriam London belum sepenuhnya meyakinkan. Kekalahan 2-3 dari Manchester United pada akhir pekan lalu menjadi alarm bahwa posisi teratas tak selalu sejalan dengan dominasi di lapangan.
Meski tumbang di Old Trafford, Arsenal tetap memimpin klasemen Premier League dengan koleksi 50 poin dari 23 pertandingan. Tim asuhan Mikel Arteta unggul empat angka dari dua pesaing terdekatnya, Manchester City dan Aston Villa, yang sama-sama mengantongi 46 poin.
Persaingan papan atas pun diprediksi bakal memanas hingga pekan terakhir. Arsenal, Man City, dan Aston Villa dinilai masih punya peluang yang relatif seimbang untuk mengakhiri musim sebagai juara Liga Inggris.
Namun di balik status pemuncak klasemen, kritik mulai berdatangan. Salah satunya datang dari legenda Manchester United, Paul Scholes. Mantan gelandang Timnas Inggris itu menilai Arsenal belum menunjukkan karakter khas tim juara, terutama di sektor penyerangan.
Menurut Scholes, lini depan Arsenal masih kesulitan mencetak gol secara konsisten. Kondisi ini dianggap menjadi pembeda utama antara Arsenal musim ini dengan tim-tim juara Premier League sebelumnya seperti Liverpool atau Manchester City.
“Jika Arsenal juara Premier League, ini bisa menjadi tim terburuk yang pernah memenangkan liga,” ujar Scholes dalam podcast The Good, The Bad & The Football.
Ia bahkan menyinggung kualitas pemain depan Arsenal yang dinilai belum cukup elite untuk ukuran kandidat juara.
“Jika Anda diminta memilih empat penyerang terbaik musim ini, tidak ada satu pun dari Arsenal yang akan masuk daftar tersebut,” lanjutnya.
Pernyataan Scholes jelas mengundang perdebatan. Di satu sisi, Arsenal unggul secara poin dan konsistensi hasil. Di sisi lain, produktivitas gol dan ketajaman lini depan masih kerap menjadi tanda tanya.
Dengan musim yang masih panjang, Arsenal kini ditantang untuk membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pemuncak klasemen sementara. Jika ingin benar-benar mengakhiri puasa gelar Liga Inggris, Meriam London harus menjawab kritik—bukan dengan kata-kata, tapi lewat gol dan kemenangan.













