Opini: Sriwijaya FC, Dari Raja Sepak Bola Nasional ke Titik Paling Sunyi Sejarah

  • Bagikan

SEPAKPOJOK82.COM – Sriwijaya FC bukan sekadar klub sepak bola. Ia adalah simbol kebangkitan, kebanggaan, dan kejayaan Palembang serta Sumatera Selatan. Berdiri pada 23 Oktober 2004, Sriwijaya FC lahir dari pengambilalihan Persijatim Jakarta Timur oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Sebuah keputusan berani yang kala itu terbukti visioner.

Dalam waktu singkat, Laskar Wong Kito menjelma menjadi salah satu klub tersukses dalam sejarah sepak bola Indonesia.

banner 336x280

Masa Keemasan yang Sulit Diulang

Sriwijaya FC pernah berdiri di puncak. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Dua gelar Liga Indonesia/Liga Super Indonesia (2008 dan 2012), tiga trofi Piala Indonesia berturut-turut (2008, 2009, 2010), hingga status Double Winners 2008 menjuarai liga dan piala dalam satu musim menjadi bukti dominasi.

Tak berhenti di situ, Sriwijaya FC juga menjadi langganan AFC Cup, membawa nama Indonesia ke level Asia. Kala itu, Elang Andalas bukan hanya ditakuti di dalam negeri, tetapi juga disegani di kawasan.

Nama besar pelatih Rahmad Darmawan menjadi arsitek utama kejayaan tersebut. Di tangannya, Sriwijaya FC identik dengan disiplin, organisasi rapi, dan mental juara.

Awal Retakan yang Diabaikan

Namun, seperti bangunan megah tanpa perawatan, kejayaan itu perlahan retak. Saat kompetisi Liga 1 bergulir dengan ekspektasi tinggi skuad mewah berisi Hamka Hamzah, Alvin Tuasalamony, Konate Makan, Adam Alis, Manuchehr Jalilov Sriwijaya FC justru dilanda gejolak internal.

Baca Juga  Isu Akuisisi Sriwijaya FC Mencuat, Nama Bos PSM Makassar Ikut Terseret

Putaran pertama belum rampung, Rahmad Darmawan mengundurkan diri. Sebuah sinyal bahaya yang kala itu mungkin dianggap sepele. Nyatanya, kepergian RD menjadi awal dari kehancuran sistemik.

Eksodus pun tak terelakkan. Sembilan pemain inti hengkang di putaran kedua. Klub kehilangan bukan hanya kualitas, tetapi juga identitas.

Salah Urus, Salah Arah

Penunjukan Subangkit, pelatih tim U-19, sejatinya langkah berani. Namun, keberanian tanpa kesiapan adalah perjudian. Sriwijaya FC gagal bangkit, terseok-seok di papan bawah.

Saat kompetisi menyisakan delapan laga, Alfredo Vera datang sebagai solusi darurat. Tapi waktu terlalu sempit, luka terlalu dalam. Sriwijaya FC finis di posisi 17 klasemen akhir dengan 39 poin.

Degradasi ke Liga 2 musim 2019 pun tak terhindarkan.

Masalahnya, degradasi bukan akhir cerita. Justru di sanalah mimpi buruk yang sesungguhnya dimulai.

Dari Degradasi ke Degradasi Martabat

Hingga kini, Sriwijaya FC masih tertahan di Liga 2. Tahun berganti, masalah tak pernah selesai. Finansial, manajemen, hingga perencanaan tim berjalan tanpa arah yang jelas.

Puncaknya terjadi saat ini. Hanya 15 pemain yang tersisa di dalam skuad. Untuk laga tandang melawan Persekat Tegal, Sriwijaya FC harus menempuh perjalanan berjam-jam menggunakan bus bukan pesawat, seperti klub-klub profesional lainnya.

Baca Juga  Pekan 22 BRI Super League: Tikungan Penentu Menuju Tangga Juara

Ini bukan sekadar soal kenyamanan. Ini soal martabat klub, soal perlakuan terhadap atlet, dan soal keseriusan mengelola sepak bola profesional.

Bagaimana mungkin klub sebesar Sriwijaya FC diperlakukan seperti tim amatir?

Menuju Bertahan atau Menghilang?

Pertanyaannya kini bukan lagi soal promosi ke Liga 1. Pertanyaannya jauh lebih mendasar:
apakah Sriwijaya FC masih bisa bertahan di sepak bola nasional?

Sejarah mencatat Palembang pernah kehilangan klub besar sebelumnya. Kramayudha Tiga Berlian nama yang dulu disegani, kini hanya tinggal kenangan.

Apakah Sriwijaya FC akan menyusul?

Jika tidak ada pembenahan total manajemen yang transparan, pendanaan yang sehat, visi jangka panjang, dan keberpihakan pada profesionalisme maka sejarah kelam itu bisa terulang.

Dan jika hari itu benar-benar datang, sepak bola Indonesia bukan hanya kehilangan satu klub. Ia kehilangan sepotong sejarah, identitas daerah, dan mimpi ribuan pendukung setia.

Sriwijaya FC hari ini berdiri di persimpangan:
bangkit sebagai legenda yang kembali hidup, atau gugur sebagai kisah sedih yang tak sempat diselamatkan.

Sepak bola, pada akhirnya, selalu jujur pada siapa yang merawatnya dan kejam pada siapa yang lalai

  • Bagikan