JOK82 – Timnas Indonesia U-22 menutup perjalanan di SEA Games 2025 dengan cerita yang jauh dari harapan. Dua tahun setelah meraih medali emas bersejarah di Kamboja, Garuda Muda justru harus tersingkir lebih cepat di fase grup cabang sepak bola putra.
Indonesia finis di peringkat kedua Grup C dengan tiga poin dari dua pertandingan. Kemenangan 3-1 atas Myanmar pada laga pamungkas sejatinya memberi sedikit harapan, namun aturan klasemen mini membuat kemenangan itu tak cukup mengantar skuad asuhan Indra Sjafri melaju ke semifinal. Garuda Muda pun harus mengemasi koper lebih awal.
Kegagalan ini menjadi kontras mencolok dibanding pencapaian gemilang di SEA Games 2023, ketika Indonesia memutus dahaga 32 tahun dan kembali berdiri di podium tertinggi. Dua tahun lalu, euforia emas memeriahkan Tanah Air. Tahun ini, sunyi. Garuda Muda kehilangan taring bahkan sebelum memasuki babak gugur.
Padahal, berbagai dukungan sudah diberikan—mulai dari persiapan panjang, komposisi pemain yang dipilih secara selektif, hingga target jelas untuk mempertahankan medali. Namun realita di lapangan berkata lain. Indonesia tampak kesulitan menjaga konsistensi permainan, terutama menghadapi tekanan pertandingan yang ketat.
Kekalahan ini membuka banyak pertanyaan: soal efektivitas TC panjang, soal menit bermain pemain di kompetisi domestik, hingga kesesuaian strategi yang diterapkan. Evaluasi tentu menunggu, bukan hanya untuk tim pelatih, tetapi juga seluruh ekosistem pembinaan pemain muda.
Yang pasti, SEA Games 2025 mencatatkan Indonesia sebagai mantan juara yang gagal mempertahankan martabat. Harapan kembali ke jalur prestasi kini harus ditunda. Garuda Muda pulang, terluka, dan harus bangkit lagi dari awal.(EBP)













