Diaspora Ramai ke Liga Indonesia, Mohamad Kusnaeni: Proses Alamiah Demi Menit Bermain

  • Bagikan
Foto: Bola Net

JAKARTA – Fenomena kembalinya pemain diaspora ke kompetisi domestik terus menjadi sorotan. Pengamat sepak bola nasional, Mohamad Kusnaeni, menilai arus bergabungnya pemain berdarah Indonesia ke klub-klub Liga Indonesia merupakan proses yang alamiah dalam karier profesional.

Menurut Kusnaeni, mayoritas pemain yang memutuskan hijrah ke Tanah Air adalah mereka yang kesulitan bersaing di klub luar negeri, khususnya di level kompetisi yang lebih tinggi.

banner 336x280

“Saya melihat ini proses yang alamiah. Umumnya pemain yang pindah itu tidak mampu bersaing di negara lain, di level klub yang tinggi,” ujar Kusnaeni saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Daftar Pemain Diaspora yang Merapat ke Liga Indonesia 2025/2026

Sejak awal musim 2025/2026, sejumlah nama diaspora resmi berlabuh ke klub-klub Liga Indonesia. Beberapa di antaranya:

  • Jordi Amat: dari Johor Darul Ta’zim ke Persija Jakarta

  • Rafael Struick: dari Brisbane Roar ke Dewa United

  • Jens Raven: dari FC Dordrecht ke Bali United

  • Thom Haye dan Eliano Reijnders: dari Almere City dan PEC Zwolle ke Persib Bandung

Pada pertengahan musim, pergerakan masih berlanjut:

  • Shayne Pattynama: dari Buriram United ke Persija

  • Dion Markx: dari TOP Oss ke Persib

Teranyar, penyerang Mauro Zijlstra meninggalkan FC Volendam dan menandatangani kontrak dua setengah tahun bersama Persija. Sementara itu, Ivar Jenner hengkang dari FC Utrecht untuk memperkuat Dewa United.

Menit Bermain Jadi Alasan Utama

Kusnaeni menilai, faktor utama kepindahan tersebut adalah kebutuhan menit bermain. Dalam sepak bola profesional, pemain yang terlalu lama duduk di bangku cadangan berisiko mengalami penurunan performa.

“Karena pemain itu kalau kelamaan tidak bermain, kemampuannya bisa menurun,” tegasnya.

Ia menjelaskan, para pemain dihadapkan pada dua pilihan: bertahan di Eropa atau negara lain tanpa kepastian tampil reguler, atau keluar dari zona nyaman demi peluang bermain lebih besar di Liga Indonesia.

Beda Generasi, Beda Kepentingan

Kusnaeni juga membedakan pemain diaspora berdasarkan fase usia. Ada yang sudah melewati masa emas, seperti Jordi Amat (33 tahun), Thom Haye, dan Shayne Pattynama. Ada pula yang masih sangat muda dan tengah membangun fondasi karier profesional, seperti Jens Raven (20 tahun) dan Mauro Zijlstra (21 tahun).

Untuk kelompok usia muda, Liga Indonesia bisa menjadi batu loncatan. Dengan jam terbang yang cukup, mereka berpeluang meningkatkan performa dan membuka pintu kembali ke kompetisi Eropa.

“Kalau mereka terus bertahan di Eropa tapi hanya di bench, belum tentu bisa berkembang atau survive,” kata Kusnaeni.

Antara Ideal dan Realita

Perpindahan diaspora ke Liga Indonesia sempat memunculkan anggapan bahwa langkah tersebut bertolak belakang dengan mimpi pemain lokal yang ingin berkarier di Eropa. Namun, Kusnaeni menegaskan setiap pemain memiliki kebutuhan perkembangan yang berbeda.

Dalam sepak bola modern, karier tidak selalu linear. Bagi sebagian pemain diaspora, pulang ke Indonesia bukan kemunduran, melainkan strategi menjaga performa dan eksistensi.

Dengan kompetisi Liga Indonesia yang semakin kompetitif dan sorotan publik yang tinggi, keputusan ini bisa menjadi momentum kebangkitan — bukan sekadar pelarian.

Baca Juga  Analisis Taktik Michael Carrick: Transformasi Manchester United 2026
  • Bagikan