JAKARTA – Era baru Timnas Indonesia di bawah asuhan John Herdman resmi dimulai pada ajang FIFA Series Maret 2026. Menjelang laga debut melawan Saint Kitts and Nevis pada 27 Maret mendatang, perhatian publik tertuju pada komposisi skuad yang dinilai tidak biasa: absennya sosok gelandang serang atau playmaker murni.
Keputusan Herdman memanggil 24 pemain tanpa kreator serangan konvensional menjadi indikasi kuat adanya pergeseran filosofi permainan. Pelatih asal Inggris itu tampaknya ingin meninggalkan ketergantungan pada kreativitas individu dan beralih ke struktur tim yang lebih kolektif.
Fokus pada Gelandang Pekerja dan Transisi Cepat
Dalam daftar pemain yang dipanggil, lini tengah didominasi oleh pemain bertipe “pekerja” dan gelandang bertahan seperti Ivar Jenner serta Joey Pelupessy. Keduanya dikenal memiliki kemampuan duel yang kuat dan distribusi bola yang sederhana namun efektif.
Selain itu, Herdman memaksimalkan pemain hibrida yang fleksibel dalam transisi posisi, seperti Calvin Verdonk, Nathan Tjoe-A-On, hingga Jordi Amat. Strategi ini mengarah pada gaya main yang lebih lugas, cepat, dan meminimalisir giringan bola (dribbling) yang tidak perlu.
“Saya kira John Herdman ingin Timnas Indonesia bermain cepat dan sedikit mengurangi peran para gelandang. Sebagai pelatih baru, dia harus berani bereksperimen di laga debutnya,” ujar pengamat sepak bola nasional, Alexander Sununu.
Alternatif Kreativitas dari Posisi Non-Tradisional
Meski tanpa nomor 10 murni, bukan berarti kreativitas hilang sepenuhnya. Herdman memiliki opsi pada sosok Beckham Putra yang meski sering beroperasi di sayap, memiliki visi bermain yang baik. Selain itu, Eliano Reijnders dan Dony Tri Pamungkas juga bisa menjadi kunci perubahan arah serangan berkat fleksibilitas posisi mereka.
Pendekatan kick and rush modern atau permainan vertikal yang cepat diprediksi akan menjadi identitas baru Skuad Garuda. Fokus utama tim kepelatihan saat ini adalah membangun fondasi fisik yang kuat serta kedisiplinan struktural agar transisi dari bertahan ke menyerang berjalan secepat kilat.
Ujian Perdana di GBK
FIFA Series 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno akan menjadi panggung pembuktian apakah taktik “tanpa otak serangan” ini efektif menghadapi lawan-lawan internasional. Dengan dukungan tim kepelatihan yang gemuk, termasuk sembilan asisten, Herdman berharap perubahan radikal ini bisa membawa Indonesia naik kelas di level dunia.
Laga melawan Saint Kitts and Nevis tidak hanya sekadar mencari kemenangan, tetapi juga menjadi cetak biru bagi masa depan sepak bola Indonesia di bawah kendali mantan pelatih Timnas Kanada tersebut.
