JAKARTA – Pengrusakan bus rombongan tim muda Persib Elite Pro Academy (EPA) U-18 di Rest Area Batang membakar kemarahan publik olahraga tanah air. Maka dari itu, penyerangan bus Persib U-18 tindakan pengecut ini menjadi tamparan keras bagi para pelaku anarkisme pada Senin (12/10/2026).
Siapa pun oknum yang terlibat dalam aksi pelemparan batu tersebut pantas menyandang predikat sampah sepak bola.
Perbuatan anarkis tersebut sangat memalukan, tidak bermoral, serta mencerminkan kebodohan yang luar biasa.
Rasa prihatin mendalam mengalir deras kepada para pemain muda serta oficial yang menjadi korban keganasan oknum tak bertanggung jawab!
Membanting Mitos Kehormatan Klub: Target Penyerangan Adalah Anak-Anak!
Pasalnya, sasaran kejahatan brutal tersebut merupakan anak-anak muda yang tengah berjuang keras merajut impian menjadi pesepak bola profesional. Mereka bukanlah musuh, apalagi ancaman bagi keberadaan klub mana pun di panggung kompetisi domestik.
Masa depan sepak bola nasional bertumpu pada talenta serta kerja keras kaki-kaki muda mereka di atas lapangan.
Sangat miris melihat sekumpulan oknum merasa gagah membela kehormatan klub dengan cara menyerang anak-anak di Rest Area Tol Batang.
Dengan demikian, aksi brutal penyerangan fisik sama sekali tidak mencerminkan jiwa kesatria maupun kecintaan pada olahraga!
Pahami Hukum Tongkrongan: Hormati Orang Lain Demi Meraih Respect
Mentalitas anarkis para pelaku di lapangan mengindikasikan dangkalnya pemahaman nilai solidaritas serta rasa hormat sesama pencinta sepak bola. Selain itu, rumus mendasar dalam kehidupan sosial mengajarkan bahwa rasa hormat lahir dari sikap saling menghargai.
Aksi penyerangan rombongan anak-anak muda justru menghancurkan martabat klub yang mereka klaim sedang mereka bela.
Aparat penegak hukum wajib menindak tegas para pelaku demi memberikan efek jera secara nyata.
Mari kita kawal bersama pemulihan fisik dan mental pilar-pilar muda Maung Bandung agar terus melangkah meraih mimpi!
