JAKARTA – Persija Jakarta kini berada di persimpangan jalan menuju tangga juara BRI Super League 2025/26. Dengan hanya menyisakan empat pertandingan, setiap laga bagi Macan Kemayoran kini berstatus “Final”. Meski posisi puncak masih bergantung pada hasil rival, asa juara tetap menyala di ruang ganti tim ibu kota.
Anak asuh Mauricio Souza dijadwalkan menghadapi jadwal padat yang tidak hanya menguras fisik, tetapi juga mental. Fokus utama kini tertuju pada konsistensi poin penuh agar tidak tergelincir di tikungan terakhir kompetisi.
Jadwal Krusial: Duel Klasik Lawan Persib Menjadi Penentu
Nasib Persija di papan atas akan ditentukan dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Berikut adalah jadwal empat “laga final” sisa Persija Jakarta:
-
4 Mei 2026: Persija Jakarta vs Persijap Jepara
-
10 Mei 2026: Persib Bandung vs Persija Jakarta (Laga Penentu Gelar)
-
16 Mei 2026: Persija Jakarta vs Persik Kediri
-
23 Mei 2026: Persija Jakarta vs Semen Padang FC
Duel kontra Persib Bandung pada 10 Mei mendatang diprediksi menjadi laga paling menentukan. Jika mampu mencuri poin penuh di laga klasik ini, peluang Persija mengudeta posisi puncak akan terbuka lebar.
Rayhan Hannan: Kami Fokus pada Diri Sendiri
Gelandang muda berbakat, Rayhan Hannan, memberikan sinyal bahwa internal tim tetap tenang menghadapi tekanan. Alih-alih sibuk menghitung poin Borneo FC dan Persib, Persija memilih fokus pada performa internal.
“Terkait Borneo FC dan Persib, kami hanya ingin fokus dengan game-game kami, memberikan yang terbaik, dan kita lihat hasil di akhir musim,” tegas Rayhan Hannan, dilansir dari laman ileague.id.
Mauricio Souza: Berupaya Maksimal, Serahkan Hasil pada Takdir
Pelatih kepala Mauricio Souza menyadari bahwa situasi saat ini menempatkan Persija dalam posisi “menunggu” kesalahan lawan. Pelatih asal Brasil tersebut menekankan pentingnya menyelesaikan kewajiban tim terlebih dahulu.
“Kompetisi ini tidak hanya bergantung pada kami sekarang. Saya berharap kami bisa melakukan bagian kami dengan sempurna. Jika Tuhan menghendaki kami menjadi juara, itu akan terjadi,” ungkap Souza dengan sikap pasrah namun tetap ambisius.
Analisis Peluang: Mengapa Persija Masih Bisa Juara?
Meskipun ketergantungan pada tim lain menjadi faktor penghambat, ada tiga alasan mengapa Macan Kemayoran tetap diunggulkan:
-
Kedalaman Skuad: Rotasi pemain yang dilakukan Souza terbukti efektif menjaga kebugaran pemain kunci.
-
Mentalitas Pemenang: Pengalaman menghadapi tekanan di akhir musim menjadi modal berharga bagi para pemain senior Persija.
-
Laga Kandang: Tiga dari empat laga sisa adalah kesempatan emas untuk mengamankan poin maksimal di hadapan dukungan penuh The Jakmania.
Jika Persija berhasil menyapu bersih 12 poin tersisa, tekanan besar akan berpindah ke pundak Borneo FC dan Persib Bandung. Kini, pertanyaannya adalah: mampukah Macan Kemayoran menjaga fokus hingga laga terakhir pada 23 Mei mendatang?













