JAKARTA – Pelatih kepala Timnas Argentina, Lionel Scaloni, mengeluarkan pernyataan sangat tegas menjelang laga semifinal Piala Dunia 2026. Ia meminta publik tidak mengaitkan duel kontra Inggris dengan konflik Perang Malvinas.
Juru taktik karismatik tersebut menegaskan pertandingan di Atlanta Stadium murni urusan sepak bola. Laga ini sama sekali bukan ajang untuk membuka kembali luka sejarah masa lalu.
Scaloni mengakui rivalitas kedua negara memang selalu memantik letupan emosi yang sangat tinggi. Namun, ia menuntut semua pihak tetap menghormati sejarah tanpa mengaburkan esensi olahraga.
“Mari kita beri penghormatan tertinggi atas apa yang terjadi bertahun-tahun lalu,” ujar Scaloni.
Sebut Perang Malvinas Periode Kelam, Scaloni Harap Semua Pihak Berpikir Jernih
Scaloni menyebut Perang Malvinas sebagai potret periode yang sangat menyedihkan bagi rakyatnya. Karena itu, ia mengutuk keras pihak yang mencampuradukkan politik ke dalam lapangan hijau.
Menurut arsitek berusia 48 tahun itu, tindakan tersebut hanya akan memicu kegilaan massal. Meski begitu, ia paham betul laga kontra Inggris selalu menyajikan nilai emosional tinggi.
Alasan utamanya mencuat karena sejarah panjang bentrokan kedua tim pada panggung Piala Dunia. Scaloni secara khusus mengenang memori indah kemenangan bersejarah Argentina pada edisi 1986 silam.
Ia memuji gol kedua Diego Maradona sebagai momen paling ikonik sepanjang masa. Gol ajaib tersebut tetap melekat erat di dalam ingatan setiap pecinta sepak bola dunia.
Bentrokan Keenam Sepanjang Sejarah, Catatan Rekor Pertemuan Masih Milik Tiga Singa
Laga semifinal nanti resmi menandai pertemuan keenam antara Argentina dan Inggris di Piala Dunia. Dalam rekam jejak sejarah, Inggris sedikit unggul lewat koleksi tiga kemenangan.
Sementara tim Tango baru mengemas dua kemenangan atas skuad Tiga Singa tersebut. Publik tentu masih mengingat kartu merah ikonik David Beckham pada Piala Dunia 1998.
Saat itu, Beckham terlibat insiden panas di lapangan dengan gelandang jangkar Diego Simeone. Pertemuan terakhir kedua tim terjadi pada edisi 2002 dengan kemenangan 1-0 untuk Inggris.
Kini, kedua musuh bebuyutan kembali bentrok demi memperebutkan tiket mahal menuju babak final. Scaloni berharap seluruh atensi dunia tertuju pada keindahan taktik sepak bola di lapangan.
