JAKARTA – Tekanan memuncak di tubuh Semen Padang. Klub berjuluk Kabau Sirah itu kini terpuruk di peringkat ke-17 klasemen sementara BRI Super League 2025/2026 dan berada di zona degradasi. Situasi semakin panas setelah kekalahan telak 0-4 dari Bhayangkara FC pada Selasa (24/2/2026).
Kekalahan tersebut memantik reaksi keras dari penasihat klub, Andre Rosiade. Ia secara terbuka menyampaikan ultimatum kepada pelatih kepala Dejan Antonic.
“Kekalahan ini menyakitkan,” ujar Andre dalam konten yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya.
Ia menegaskan manajemen mulai mengambil langkah evaluasi demi menyelamatkan tim dari ancaman turun kasta.
“Manajemen memulai langkah-langkah untuk melakukan evaluasi agar tim ini selamat dari degradasi. Kalau ndak menang (lawan PSIM), berarti ganti pelatih,” tegasnya.
Sejak ditunjuk pada Oktober 2025, Dejan Antonic belum mampu mengangkat performa Semen Padang secara signifikan. Dari 15 pertandingan di bawah komandonya, Kabau Sirah hanya meraih tiga kemenangan. Catatan itu kian diperburuk dengan tren tanpa kemenangan dalam tiga laga terakhir.
Kini, laga melawan PSIM Yogyakarta pada pekan ke-24 menjadi partai hidup-mati bagi Dejan. Pertandingan yang dijadwalkan berlangsung Rabu (4/3/2026) itu bukan sekadar perebutan tiga poin, melainkan penentuan nasib kursi pelatih.
Manajemen menginginkan respons cepat. Dengan kompetisi yang memasuki fase krusial, setiap poin menjadi penentu bertahan atau terdegradasi. Jika gagal meraih kemenangan atas PSIM, besar kemungkinan terjadi pergantian pelatih dalam waktu dekat.
Situasi ini menempatkan Semen Padang dalam tekanan ganda: menyelamatkan posisi di klasemen sekaligus menjaga stabilitas tim. Publik Padang kini menanti, apakah Kabau Sirah mampu bangkit atau justru memasuki babak baru dengan nahkoda berbeda.













