Indeks

PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta Duet di Kasta Tertinggi, Bos Klub Gaungkan Mataram Islah

  • Bagikan
PSIM vs PSS - Foto : Ist

SLEMAN – Panggung kasta tertinggi sepak bola Tanah Air, Liga Super Indonesia musim 2026/2027, bakal menyajikan duel yang sangat dinantikan. Publik sepak bola Kota Gudeg dipastikan bakal berpesta seiring kepastian tersajinya kembali laga panas bertajuk Derby Yogyakarta (Derby DIY) pada musim depan.

Skenario luar biasa ini terwujud setelah PSS Sleman sukses menyusul rival sekotanya, PSIM Yogyakarta, untuk naik kasta ke kompetisi kasta tertinggi. Kehadiran kedua tim ini otomatis menggaransi bentrokan sengit antara Laskar Sembada (julukan PSS) kontra Laskar Mataram (julukan PSIM) di lapangan hijau.

Petinggi Klub Komit Gaungkan Semangat Perdamaian

Kendati aroma rivalitas di atas lapangan selalu menyita perhatian besar, manajemen kedua tim langsung mengambil langkah cepat. Jauh-jauh hari sebelum jadwal pertandingan resmi rilis, para petinggi klub kompak menyuarakan komitmen persaudaraan lewat slogan ikonik “Mataram is Love” dan “Mataram Islah”.

Direktur PSS Sleman, Yoni Arseto, menegaskan bahwa hubungan manajemen kedua tim sejauh ini berjalan sangat harmonis tanpa ada gesekan sedikit pun. Ia menaruh harapan besar agar keharmonisan ini menular secara positif kepada basis suporter kedua kesebelasan.

“Kami sangat berharap kedua kelompok suporter bisa saling berkolaborasi nyata dan mewujudkan Mataram Islah,” ujar Yoni saat menghadiri pembukaan mini museum PSS di Stadion Maguwoharjo, Minggu (17/5/2026).

Yoni juga mengingatkan bahwa gerakan Mataram Islah merupakan wujud nyata ikatan persaudaraan sesama perantau dan warga asli DIY. Bagi Yoni, rivalitas 90 menit hanyalah bumbu dalam sebuah pertandingan olahraga. “Harapan utama kami, semua pihak wajib menjaga kondusivitas dan keamanan di wilayah DIY,” tegasnya secara berulang.

Bidik Target Jadi Barometer Sepak Bola Nasional

Senada dengan sang rival, Direktur Utama PSIM Jogja, Yuliana Tasno, juga melempar respons yang sangat positif. Perempuan yang akrab dengan sapaan Liana Tasno ini langsung melayangkan ucapan selamat atas keberhasilan PSS Sleman menyusul timnya ke kasta tertinggi.

Cik Liana—sapaan akrabnya—berambisi menjadikan keberadaan dua klub besar asal DIY di Liga Super ini sebagai contoh teladan yang baik bagi perkembangan industri sepak bola nasional.

“Mari kita bersama-sama bergandengan tangan untuk menjadi benchmark (barometer) kemajuan sepak bola Indonesia,” tutur Liana penuh optimisme.

Lebih lanjut, Liana meminta seluruh suporter menjaga dan merawat solidaritas yang telah terbangun. Ia mencontohkan momen kebersamaan yang sempat tercipta antara suporter Yogyakarta dan Solo beberapa waktu lalu sebagai modal berharga. Baginya, sepak bola harus menjadi alat pemersatu bangsa, bukan justru menjadi pemicu perpecahan yang merugikan.

  • Bagikan
Exit mobile version