BANDUNG – Manajemen Persib Bandung mengambil langkah tegas menyusul insiden kericuhan usai laga kontra Ratchaburi FC pada 18 Februari 2026 lalu.
Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, mengumumkan penutupan sementara Tribune Selatan serta VIP Barat Selatan sektor D dan E di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).
Kebijakan tersebut mulai diberlakukan saat laga Persib menghadapi Persita Tangerang pada pekan ke-22 BRI Super League 2025/2026, Minggu (22/2/2026), dan berlaku hingga waktu yang belum ditentukan.
Evaluasi Menyeluruh, Bukan Respons Spontan
Adhitia menegaskan, keputusan ini merupakan hasil evaluasi dan investigasi internal secara komprehensif, bukan sekadar reaksi emosional atas satu peristiwa.
“Di saat yang sama, kami juga melakukan evaluasi dan investigasi internal secara menyeluruh terhadap aspek penyelenggaraan pertandingan,” tegasnya.
Laga melawan Ratchaburi FC yang berlangsung dalam atmosfer kompetisi Asia memang sarat emosi. Harapan besar Bobotoh untuk melihat Maung Bandung bersinar di level internasional justru ternodai sejumlah insiden.
Rentetan Insiden Jadi Alarm Serius
Manajemen mengakui terjadi berbagai pelanggaran, mulai dari pemanjatan pagar pembatas, pelemparan objek ke lapangan, penyalaan petasan, hingga aksi pitch invasion oleh oknum suporter.
Situasi tersebut bukan hanya berpotensi membahayakan keselamatan pemain dan ofisial, tetapi juga mencoreng nama besar klub, Kota Bandung, bahkan Indonesia di mata internasional.
“Kami memahami pertandingan ini penuh emosi. Namun setiap tindakan yang berpotensi membahayakan keselamatan tentu harus kita sikapi bersama,” ujar Adhitia.
Sinyal Tegas Jaga Marwah Klub
Penutupan tribun menjadi pesan kuat bahwa Persib tidak akan mentoleransi tindakan yang mencederai sportivitas dan keselamatan pertandingan.
Manajemen memastikan pembenahan sistem keamanan dan tata kelola pertandingan akan dilakukan bertahap. Tujuannya jelas: menciptakan suasana aman, nyaman, dan kondusif di setiap laga kandang.
Meski demikian, Persib tetap menaruh kepercayaan besar kepada Bobotoh sebagai denyut nadi klub.
“Kami percaya semangat Bobotoh selalu menjadi kekuatan utama Persib. Mari kita jaga marwah klub ini dengan dukungan yang dewasa dan bertanggung jawab,” tutup Adhitia.
Keputusan ini menjadi momentum refleksi bersama. Bahwa cinta kepada klub tak hanya hadir lewat koreografi megah dan dukungan lantang, tetapi juga melalui kedewasaan menjaga nama baik Persib di panggung nasional dan Asia.













