SURABAYA – Manajemen Persebaya Surabaya menegaskan komitmen tinggi untuk tidak sekadar menjadi tim penggembira pada musim kompetisi 2026/2027. Skuad Bajul Ijo langsung tancap gas melakukan evaluasi total di seluruh lini aspek tim.
Langkah berani ini demi mematok target prestasi yang jauh lebih tinggi pada September mendatang. Direktur Operasional Persebaya, Candra Wahyudi, memimpin langsung pembenahan besar-besaran internal klub kebanggaan Bonek ini.
Perbaikan menyeluruh tersebut mencakup perombakan komposisi pemain hingga peningkatan kualitas fasilitas tim medis klub. Manajemen bahkan sudah menjalin komunikasi intensif dengan tim pelatih sebelum kompetisi musim lalu usai bergulir.
Benturan Kebijakan Manajemen Versus Fondasi Skuad Suroboyoan Asli
“Kami mengevaluasi semua lini seiring dengan cita-cita besar klub pada tahun ini,” tegas Candra Wahyudi.
Manajemen mewujudkan langkah konkret pada sektor rekrutan pemain serta peningkatan sektor pendukung medis tim. Namun, pergerakan manajemen di lantai bursa transfer kali ini justru memicu tanda tanya besar publik.
Pasalnya, muncul indikasi benturan kebijakan yang sangat mencolok antara komitmen pelatih dengan rencana pragmatis manajemen. Sebelumnya, pelatih kepala Persebaya, Bernardo Tavares, berjanji memprioritaskan talenta lokal serta putra daerah asli.
Tavares menyiapkan nama Dicky Kurniawan hingga Ricky Pratama secara khusus untuk menjaga roh permainan Surabaya. Bagi Tavares, penggawa Green Force wajib memahami identitas, budaya, serta arti lambang Persebaya di dada.
Namun, manajemen kini justru memberikan sinyal mengejutkan yang berbanding terbalik dengan gagasan DNA lokal tersebut. Klub mengindikasikan bakal melakukan perombakan legiun asing secara masif untuk menatap musim baru.
Rombongan Legiun Asing Datang, Ujian Berat Menanti Bernardo Tavares
“Persebaya berencana mendatangkan sekitar tujuh pemain asing baru untuk mendongkrak daya saing tim,” ungkap Candra.
Rencana memboyong gerbong tujuh pemain asing baru ini tentu memicu perdebatan sengit di kalangan suporter. Publik meragukan janji optimalisasi talenta lokal jika legiun asing nantinya mendominasi pos-pos krusial lapangan.
Desakan industri kompetisi modern tampaknya memaksa manajemen mengambil jalan pintas demi mendongkrak kualitas tim secara instan. Kini, tantangan berat berada di pundak Bernardo Tavares menjelang kick-off kompetisi pada September nanti.
Tavares wajib memikirkan racikan taktik jitu agar rombongan pemain asing baru tersebut bisa cepat melebur. Sang juru taktik harus bekerja keras tanpa menenggelamkan karakter permainan ngeyel dan ngosek asli Suroboyoan.
