SEPAKPOJOK82.COM – Teknologi Video Assistant Referee (VAR) kembali memicu perdebatan sengit dalam laga-laga penentuan menuju final Liga Champions 2025/2026. Sejumlah keputusan krusial diwarnai interpretasi aturan yang kompleks, baik dalam duel antara Bayern Munchen kontra PSG maupun laga bersejarah Arsenal melawan Atletico Madrid.
Arsenal berhasil mengakhiri penantian 20 tahun untuk kembali ke partai final setelah menyingkirkan Atletico Madrid dengan agregat 2-1. Sementara itu, sang juara bertahan PSG dipastikan menjadi lawan mereka usai meredam perlawanan sengit Bayern Munchen dengan keunggulan agregat tipis 6-5.
Kontroversi Kartu Merah Mendes dan Aturan IFAB
Laga Bayern Munchen melawan PSG di Allianz Arena menjadi pusat perhatian akibat beberapa insiden di area terlarang:
-
Kasus Nuno Mendes: Bayern memprotes keras bek PSG, Nuno Mendes, yang dianggap melakukan handball pada menit ke-29. Mengingat Mendes sudah memiliki kartu kuning, pelanggaran tersebut seharusnya berujung kartu merah. Namun, wasit Joao Pinheiro justru memberikan tendangan bebas bagi PSG setelah menilai Konrad Laimer lebih dulu melakukan handball berdasarkan masukan asisten wasit. VAR tidak dapat mengintervensi karena protokol melarang peninjauan untuk kartu kuning kedua.
-
Insiden Joao Neves: Bayern kembali gagal mendapatkan penalti saat bola mengenai tangan Joao Neves di kotak terlarang. Keputusan wasit menolak penalti ini sesuai dengan regulasi terbaru IFAB, di mana handball tidak dianggap pelanggaran jika bola memantul dari tubuh atau sentuhan rekan setim dari jarak dekat tanpa unsur kesengajaan.
Arsenal Selamat dari Tekanan Atletico
Di London, keberhasilan Arsenal melaju ke final tidak lepas dari drama di depan gawang David Raya. Setelah Bukayo Saka membawa Arsenal unggul, Atletico Madrid melancarkan dua tuntutan penalti yang krusial:
-
Intervensi Gabriel Magalhaes: Saat Giuliano Simeone berhadapan dengan kiper, Gabriel melakukan upaya pemulihan posisi yang membuat Simeone kehilangan keseimbangan. Wasit Daniel Siebert dan VAR menilai tidak ada pelanggaran dan hanya memberikan sepak pojok.
-
Pelanggaran Ganda: Kontroversi kedua muncul saat terjadi kontak antara Riccardo Calafiori dan Antoine Griezmann. Namun, tuntutan penalti gugur karena wasit lebih dulu meniup peluit atas pelanggaran Marc Pubill terhadap Gabriel Magalhaes.
Interpretasi Aturan yang Masih Menjadi Debat
Rangkaian insiden di babak semifinal ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi VAR hadir untuk mengoreksi kesalahan fatal, interpretasi manusia terhadap aturan serta batasan kewenangan alat tersebut masih menjadi celah perdebatan panjang. Bagi Bayern Munchen dan Atletico Madrid, hasil ini menjadi kenyataan pahit, sementara bagi Arsenal dan PSG, konsistensi wasit dalam menjalankan protokol menjadi kunci keberhasilan mereka menuju Puskas Arena. (RED/VAR)













